Lompat ke konten
Home » BERITA PRESTASI SEKOLAH » Cerpen: Borneo

Cerpen: Borneo

  • ARTIKEL

@Penulis : Ferdy Al Fariz (Murid Kelas XII SMAN 1 Sangatta Selatan)

Ferdy Al Fariz – SMAN 1 Sangatta Selatan
Foto: Ferdy Al Fariz (Murid Kelas XII SMAN 1 Sangatta Selatan)

Hutan Kalimantan Timur selalu memiliki cara untuk menyimpan rahasia. Di balik kabut pagi yang menggantung di antara pepohonan meranti dan ulin, ada kisah yang tak pernah benar-benar usai.

Arka, seorang pemuda dari Samarinda, baru saja kembali ke kampung ibunya di tepian Sungai Mahakam. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia merantau ke Jawa, mengejar pendidikan, karier, dan mimpi yang sering terasa begitu jauh dari tanah kelahirannya. Namun kini, setelah kepergian sang ayah, ia merasa ada panggilan yang tak bisa ditolak—panggilan dari tanah Borneo itu sendiri.

Perahu ketinting yang ditumpanginya bergetar lembut, membelah arus sungai. Di tepi, anak-anak Dayak berlarian sambil tertawa, sebagian mandi sambil melompat dari jembatan kayu. Aroma kayu bakar dan ikan asin dari rumah-rumah panggung menyeruak di udara. Arka menghirup dalam-dalam, seolah paru-parunya sedang menampung kembali memori masa kecil yang lama hilang.

“Borneo bukan hanya tanah,” suara ibunya pernah berkata. “Ia adalah darah, napas, dan jiwa. Kalau kau lupa, kau akan kehilangan dirimu sendiri.”

Arka menatap hutan yang menjulang. Dari kejauhan, samar terdengar suara burung enggang, ikon kebanggaan Dayak. Namun, di sela keindahan itu, ia juga melihat luka: lahan yang gundul, sisa-sisa hutan terbakar, dan mesin besar yang menderu di kejauhan. Sebuah benturan antara masa lalu dan masa depan.

Di rumah panjang yang kini hanya dihuni sebagian keluarga besar, Arka bertemu dengan pamannya, seorang tetua adat. Malam itu, mereka duduk di depan api unggun, ditemani alunan kecapi dan tarian tradisi yang dibawakan sepupu-sepupunya.

Ilustrasi Borneo Aku Pulang

“Kau kembali bukan hanya untuk keluarga,” kata pamannya, menatap mata Arka dalam-dalam. “Borneo memanggilmu. Hutan ini butuh suara anak-anaknya. Jika semua pergi, siapa yang akan menjaganya?”

Kata-kata itu menusuk batin Arka. Ia tahu benar, kehidupan modern yang ia jalani di kota sering membuatnya lupa akan tanah leluhur. Namun ia juga sadar, menjaga hutan bukanlah perkara mudah. Ada perusahaan besar, ada kepentingan politik, ada orang-orang yang hanya melihat hutan sebagai angka di atas kertas.

Keesokan harinya, Arka berjalan menyusuri jalur setapak menuju air terjun yang dulu sering ia datangi bersama ayahnya. Suara gemuruh air jatuh berpadu dengan kicau burung. Di tempat itulah, Arka merasa mendapat jawaban.

Borneo bukanlah sekadar tanah kelahiran. Ia adalah rumah, sebuah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Menjaganya berarti menjaga identitas, menjaga nyawa bagi jutaan makhluk yang hidup di dalamnya.

Dengan tekad baru, Arka memutuskan tinggal lebih lama di kampung. Ia ingin memulai sesuatu—mungkin kecil, mungkin sederhana—tetapi ia percaya perubahan selalu berawal dari langkah pertama.

Di tepian Sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir, ia berbisik pelan:

“Borneo, aku pulang.”

@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya

Salam SatSet

X