Lompat ke konten
Home » BERITA PRESTASI SEKOLAH » MUTIARA Day 6: Iman, Ilmu, dan Amal

MUTIARA Day 6: Iman, Ilmu, dan Amal

  • ARTIKEL
Nabilla Zhaskia Putri
Penulis
Nabilla Zhaskia Putri Murid Kelas XII SMAN 1 Sangatta Selatan
Dewi Meiz
Editor
Dewi Meiz SMAN 1 Sangatta Selatan
MUTIARA Hari Keenam: Iman, Ilmu, dan Amal | SMAN 1 Sangatta Selatan

MUTIARA hari keenam dilaksanakan pada Selasa, 24 Februari 2026, dalam suasana pagi yang penuh ketenangan dan keberkahan. Sejak awal kegiatan, para peserta mengikuti rangkaian acara dengan khidmat dan penuh semangat. Kegiatan ini dipandu oleh Aquinna Azkadina, murid kelas X-6, yang membuka acara dengan percaya diri dan suara yang jelas sehingga suasana terasa lebih hangat dan terarah.

Kegiatan MUTIARA Hari Keenam SMAN 1 Sangatta Selatan

Dalam kesempatan tersebut, Aquinna menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah, Bapak Rubito, serta Bapak dan Ibu guru pembina kegiatan MUTIARA yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi MC pada pagi hari itu. Ia mengungkapkan rasa bangga dan syukur karena dapat tampil serta berkontribusi dalam kegiatan dakwah digital ini. Baginya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk belajar tampil di depan umum sekaligus melatih rasa tanggung jawab.

Pada MUTIARA kali ini, tausiyah disampaikan oleh murid-murid yang telah terjadwal, yaitu Nur Asila Winata (XI-1), Musyrifah (X-2), Anwari Fitrah Rusdi (XII-1), M. Bagus Rizki Mulan (X-6), dan Muhammad Asraf Mappiase (XII-1). Sementara itu, pembacaan hadis disampaikan oleh Afla Haraqib (XII-1). Seluruh rangkaian tausiyah berlangsung dengan tertib dan penuh perhatian dari para peserta.

Tausiyah Pertama: “Kehidupan”

Tausiyah pertama disampaikan oleh Nur Asila Winata dari kelas XI-1 dengan tema “Kehidupan”. Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan bahwa kehidupan adalah perjalanan untuk menjalani hidup dengan tujuan yang benar, berbuat kebaikan, serta memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Kehidupan bukan hanya tentang mencari kesenangan dunia, tetapi juga tentang proses belajar, bertanggung jawab, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

Dalam pandangan Islam, inti kehidupan adalah beribadah kepada Allah SWT, menjaga akhlak mulia, serta menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Pedoman utamanya adalah Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW. Singkatnya, inti kehidupan adalah hidup dengan iman yang kuat, tujuan yang jelas, serta memberi manfaat nyata bagi sekitar.

Tausiyah Kedua: “Pemeluk Agama Islam”

Tausiyah kedua disampaikan oleh Musyrifah dari kelas X-2 dengan tema “Pemeluk Agama Islam.” Ia menjelaskan bahwa seorang Muslim adalah orang yang meyakini keesaan Allah SWT (tauhid) dan menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan.

Seorang pemeluk Islam beriman kepada rukun iman serta melaksanakan rukun Islam seperti salat, puasa, zakat, dan haji (bagi yang mampu), dengan penuh keikhlasan. Selain itu, seorang Muslim dituntut memiliki akhlak mulia, seperti jujur, amanah, sabar, dan peduli terhadap sesama. Ia juga berusaha menjauhi larangan agama dan memperbanyak amal kebaikan. Intinya, pemeluk Islam tidak hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga menampakkan keimanan melalui perilaku baik yang membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Suasana Tausiyah MUTIARA Hari Keenam

Tausiyah Ketiga: “Saling Tolong-Menolong”

Tausiyah ketiga disampaikan oleh Anwari Fitrah Rusdi dari kelas XII-1 dengan tema “Saling Tolong-Menolong.” Ia menekankan bahwa saling menolong adalah sikap saling membantu dalam kebaikan dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.

Dalam Islam, tolong-menolong (ta’awun) merupakan perintah yang dianjurkan selama dilakukan dalam hal kebaikan dan ketakwaan. Dengan saling menolong, hubungan persaudaraan menjadi semakin kuat, beban orang lain menjadi lebih ringan, dan tercipta masyarakat yang penuh kasih sayang. Sikap ini juga melatih empati, keikhlasan, dan rasa tanggung jawab sosial. Pedoman tentang tolong-menolong dapat ditemukan dalam Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Singkatnya, saling menolong adalah wujud nyata iman melalui perbuatan baik kepada sesama.

Tausiyah Keempat: “Menuntut Ilmu”

Tausiyah keempat disampaikan oleh M. Bagus Rizki Mulan dari kelas X-6 dengan tema “Menuntut Ilmu.” Ia menjelaskan bahwa menuntut ilmu adalah usaha sungguh-sungguh untuk mencari pengetahuan yang bermanfaat demi mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Dalam Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang harus dilakukan dengan niat ikhlas, kesabaran, dan semangat belajar sepanjang hayat. Ilmu tidak hanya untuk diketahui, tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan yang benar dan salah, meningkatkan kualitas ibadah, serta berkontribusi positif di masyarakat. Pedoman utama dalam menuntut ilmu adalah Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW. Singkatnya, inti menuntut ilmu adalah belajar dengan ikhlas, memahami dengan benar, dan mengamalkan dengan bijak.

Tausiyah Kelima: “Membatalkan Puasa dengan Sengaja di Bulan Ramadhan”

Tausiyah kelima disampaikan oleh Muhammad Asraf Mappiase dari kelas XII-1 dengan tema “Membatalkan Puasa dengan Sengaja di Bulan Ramadhan.” Ia menjelaskan bahwa membatalkan puasa di bulan Ramadhan adalah segala perbuatan yang dilakukan dengan sengaja pada waktu berpuasa yang menyebabkan puasa menjadi tidak sah.

Seorang Muslim yang berpuasa wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Beberapa hal yang membatalkan puasa antara lain makan dan minum dengan sengaja, muntah dengan sengaja, berhubungan suami istri di siang hari, serta datangnya haid atau nifas bagi perempuan. Namun, jika dilakukan tanpa sengaja, seperti lupa makan atau minum, maka puasa tetap sah.

Pedoman tentang hal-hal yang membatalkan puasa dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Singkatnya, menjaga puasa berarti menahan diri dari segala hal yang membatalkannya, menjaga niat, serta tetap memelihara keikhlasan selama menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.

Melalui rangkaian tausiyah tersebut, para peserta kembali diingatkan bahwa iman, ilmu, dan amal harus berjalan beriringan dalam kehidupan seorang Muslim. Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memperkuat ketiganya agar tercipta pribadi yang lebih baik dan bertakwa.

@SMANSatSetCepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya

Salam SatSet

X