Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kita pun telah sampai pada hari ke-26 bulan suci Ramadan yang bertepatan dengan hari Senin, 16 Maret 2026. Hari-hari Ramadan terus bergulir, membawa kita semakin dekat pada penghujung bulan penuh berkah ini.
Seperti hari-hari sebelumnya, para murid SMANSATSET kembali mengawali pagi dengan kegiatan yang sarat makna, yaitu MUTIARA (Motivasi dan Tausiyah Pagi Ramadan).
Usai sahur dan melaksanakan ibadah salat Subuh, para siswa mengikuti kegiatan MUTIARA yang telah diselenggarakan sejak hari pertama Ramadan. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom sehingga seluruh peserta tetap dapat mengikuti rangkaian acara dari mana pun mereka berada.
Walaupun Ramadan telah memasuki hari ke-26, semangat para siswa untuk menimba ilmu dan memperdalam pemahaman agama tetap terasa kuat.
Acara pada pagi hari ini dipandu oleh MC Andi Aqila dari kelas X-6 yang membawakan jalannya kegiatan dengan penuh percaya diri. Menariknya, ia tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia, tetapi juga memadukannya dengan bahasa Inggris sehingga suasana acara terasa lebih dinamis.
Sebelum memasuki sesi tausiyah, kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan khidmat oleh Muhammad Ibrahim dari kelas X-1, yang semakin menambah kekhusyukan suasana pagi itu.
Tausiyah Pertama: Tempat Pulang di Akhir Ramadan
Pemateri: Endah Nur Kurmalasari (X-2)
Memasuki hari ke-26 Ramadan, barangkali banyak di antara kita yang berada pada titik kelelahan. Tugas-tugas sekolah yang harus diselesaikan, ditambah dengan kesibukan mempersiapkan datangnya Hari Raya, sering kali membuat fokus kita terpecah.
Pada saat seperti ini, kita sering merasa harus tetap terlihat kuat dan produktif, padahal batin kita sedang mencari ketenangan.
Fase akhir Ramadan sering menjadi ujian bagi kejujuran hati kita. Ketika penat datang, kita kerap mencari sandaran kepada banyak hal, bercerita kepada manusia, bahkan meluapkan perasaan di media sosial.
Namun, terkadang rasa hampa itu tetap ada, karena kita lupa bahwa tempat pulang yang paling kokoh untuk segala beban hanyalah kepada Allah SWT.
Allah tidak pernah menuntut hamba-Nya untuk menjadi sempurna tanpa cela. Allah hanya meminta kita untuk terus berusaha dan tetap mengingat-Nya di tengah segala keterbatasan kita sebagai manusia.
Ibadah yang paling jujur di penghujung Ramadan adalah ketika kita mampu melepaskan ego, menyerahkan segala beban kepada-Nya, dan mengakui bahwa kita benar-benar lemah tanpa pertolongan-Nya.
Oleh karena itu, marilah kita menjadikan sisa hari Ramadan yang tinggal sedikit ini sebagai momentum untuk benar-benar kembali kepada Allah.
Perbanyaklah amal kebaikan, perbanyak doa, dan jangan ragu untuk bersandar kepada-Nya. Karena terkadang, melambat sejenak bukanlah sebuah kelemahan, tetapi justru cara kita untuk kembali menguatkan diri.
Tausiyah Kedua: Antara Doa dan Takdir
Pemateri: Andi Almira (XI-6)
Dalam kehidupan ini kita sering mendengar dua kata yang sangat penting, yaitu doa dan takdir. Banyak orang bertanya, jika semua telah ditakdirkan oleh Allah, mengapa kita masih perlu berdoa?
Berdoa merupakan bentuk harapan dan ketergantungan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan berdoa, kita menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang lemah dan sangat membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda bahwa doa adalah senjata bagi orang beriman, sedangkan takdir adalah ketetapan Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi di dunia ini.
Namun demikian, Allah juga memerintahkan manusia untuk berusaha. Doa dapat menjadi salah satu sebab berubahnya keadaan yang kita alami.
Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh berputus asa dalam berdoa.
Ketika kita memiliki keinginan, kita tidak boleh hanya menunggu takdir. Kita harus mengiringinya dengan doa dan usaha.
Misalnya, ketika kita ingin berhasil dalam belajar, kita harus belajar dengan sungguh-sungguh sekaligus memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan.
Dari sini kita dapat memahami bahwa doa, usaha, dan takdir saling berkaitan.
Kita mungkin tidak mengetahui takdir yang akan terjadi di masa depan, tetapi kita diperintahkan untuk terus berdoa dan berusaha sebaik-baiknya.
Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita dan memberikan takdir yang terbaik bagi kehidupan kita.
Tausiyah Ketiga: Menyempurnakan Diri di Bulan Ramadan
Pemateri: Farizah (X-3)
Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan. Bulan ini merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Momentum Ramadan hendaknya kita manfaatkan untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperbanyak amal saleh.
Jangan biarkan kesempatan berharga ini berlalu begitu saja tanpa makna.
Perkuatlah salat kita, perbanyak membaca Al-Qur’an, serta jadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan positif dalam kehidupan.
Setiap manusia tentu memiliki kekurangan dan kelemahan, tetapi Allah selalu memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperbaiki diri.
Marilah kita memanfaatkan bulan yang mulia ini untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Tausiyah Keempat: Saatnya Mengoptimalkan Diri
Pemateri: Raka Esfandiar Alfarizky (X-7)
“Saatnya Mengoptimalkan Diri”
Ramadan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah. Ramadan adalah madrasah istimewa yang Allah berikan kepada kita untuk memperbaiki diri, menata kembali kehidupan, dan meraih derajat takwa.
Sering kali Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.
Pertama, memperbaiki niat dalam berpuasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Kedua, meningkatkan kualitas ibadah. Ramadan bukanlah bulan untuk bermalas-malasan. Justru sebaliknya, Ramadan adalah bulan produktif untuk memperbanyak salat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal kebaikan.
Ketiga, beristiqamah di sepuluh malam terakhir. Ketika Ramadan hampir berakhir, semangat sering kali menurun. Padahal, pada waktu inilah Rasulullah SAW justru semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah, membangunkan keluarganya, dan menghidupkan malam-malamnya untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar.
Keempat, menjaga lisan dan hati. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perkataan yang buruk, ghibah, serta penyakit hati seperti iri dan dengki.
Dengan memperbaiki manajemen waktu dan meningkatkan kualitas ibadah, semoga Ramadan tahun ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita.
Tausiyah Kelima: Proses Menjadi Lebih Baik
Pemateri: Syifa Azzahra (XI-6)
Pernahkah kita merasa bahwa diri kita belum cukup baik? Merasa masih banyak kekurangan, masih sering melakukan kesalahan, atau bahkan merasa tertinggal dari orang lain?
Perasaan seperti itu sebenarnya sangat manusiawi dan sering dialami banyak orang. Namun ada satu hal yang perlu kita ingat, setiap orang sedang berada dalam prosesnya masing-masing. Tidak ada manusia yang langsung menjadi lebih baik dalam satu waktu.
Semua orang belajar sedikit demi sedikit. Semua orang pernah melakukan kesalahan sebelum akhirnya memperbaiki diri. Hal yang paling penting bukanlah apakah kita sudah sempurna atau belum, tetapi apakah kita mau terus berusaha menjadi lebih baik.
Orang yang benar-benar gagal bukanlah orang yang pernah berbuat salah, melainkan orang yang berhenti mencoba memperbaiki dirinya. Selama kita masih mau belajar, berubah, dan memperbaiki diri, berarti kita masih berada di jalan yang benar.
Oleh karena itu, jangan terlalu keras kepada diri sendiri. Teruslah berusaha menjadi lebih baik setiap hari, walaupun hanya dengan langkah kecil. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Tausiyah Keenam: Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Pemateri: Muhammad Ibrahim (X-1)
Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat mulia. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang batil.
Hari demi hari Ramadan telah kita lalui, dan tidak lama lagi bulan yang penuh rahmat, ampunan, serta keberkahan ini akan meninggalkan kita. Namun di penghujung Ramadan terdapat satu malam yang sangat istimewa, yaitu malam Lailatul Qadar.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 3 bahwa malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki pahala yang lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun.
Ramadan juga mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah Ramadan berakhir. Semoga kita tetap menjaga salat, tetap rajin membaca Al-Qur’an, serta terus melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika setelah Ramadan kita masih mampu istiqamah dalam beribadah, maka itu bisa menjadi tanda bahwa amal ibadah Ramadan kita diterima oleh Allah SWT.
Penutup
Kegiatan MUTIARA Day 26 ini kembali menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah, serta menata hati menjadi lebih baik.
Semoga setiap tausiyah yang disampaikan pada pagi hari ini dapat menjadi bekal bagi kita semua untuk mengisi sisa Ramadan dengan ibadah terbaik, sehingga kita dapat meraih keberkahan dan kemuliaan di bulan yang penuh rahmat ini.
@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya
Salam SatSet