Aku pernah merasa hidupku tidak lengkap.
Bukan karena aku tidak punya keluarga… tetapi karena aku tumbuh tanpa sosok yang biasa dipanggil “ayah”.
Sangatta adalah tempat aku dilahirkan. Tepat pada tanggal 13 November. Di kota kecil inilah aku belajar tentang hidup—tentang kehilangan, tentang bertahan, dan tentang arti cukup.
Banyak yang bilang aku perempuan yang egois, pemarah, dan mood swing. Dan mungkin itu benar.
Tapi mereka tidak tahu… aku juga seseorang yang suka mendengarkan, yang berusaha kuat, meskipun sering kali lelah.
Aku suka bersosialisasi, tertawa, dan terlihat baik-baik saja. Tapi ada hari di mana aku tiba-tiba ingin diam. Menjauh. Seolah dunia terlalu ramai untuk aku hadapi.
Aku pernah mencoba menjadi bagian dari Paskibraka. Itu mimpiku sejak kecil.
Aku lolos semua tahap. Aku bertahan sejauh yang aku bisa.
Tapi akhirnya aku gugur di pantukhir.
Sakit? Iya.
Tapi aku tidak menyesal. Karena aku sudah mencoba. Dan aku belajar satu hal:
Lebih baik gagal setelah mencoba, daripada tidak pernah mencoba sama sekali.
Kalimat itu datang dari seseorang yang paling kuat dalam hidupku.
Ibuku.
Seorang perempuan yang mungkin terlihat biasa… tapi sebenarnya luar biasa.
Ia tidak hanya menjadi ibu. Ia juga menjadi ayah.
Ia membesarkan kami bertiga sendirian. Tanpa sosok laki-laki yang seharusnya ada di sampingnya.
Dulu aku sering bertanya dalam hati… kenapa hidupku berbeda?
Kenapa aku tidak bisa merasakan sosok ayah seperti anak-anak lain?
Tapi semakin aku tumbuh… aku mulai sadar.
Aku tidak kekurangan. Aku hanya diberi bentuk kasih sayang yang berbeda.
Hingga suatu hari, ibu dipertemukan dengan seseorang.
Seorang laki-laki yang sederhana. Tapi hatinya… seluas samudra.
Namanya Ahmad.
Ia bukan ayah kandungku.
Tapi sejak aku berumur 3 tahun… ia memilih untuk menjadi ayah dalam hidupku.
Dan anehnya… aku tidak pernah merasa ia “hanya” ayah sambung.
Karena kasih sayangnya terlalu tulus untuk diberi batas.
Ia tidak pernah membentakku. Tidak pernah meninggikan suara.
Cara bicaranya lembut… seolah ia selalu ingin menjaga kami dari luka.
Suatu hari… aku membantah ibuku.
Emosiku meledak. Aku mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak aku katakan.
Dan untuk pertama kalinya… aku melihat ibuku menangis karena aku.
Di saat itulah ayah menghampiriku dan berkata pelan:
“nduk… minta maaf dulu sama ibu. Ibu nangis itu lo…”
Aku menjawab dengan keras:
“aku ga salah… ibu duluan yang nyalahin aku.”
Ayah hanya diam sejenak… lalu berkata:
“tapi bagaimanapun itu tetap ibumu, nduk…”
Aku pergi. Aku tidak mendengarkan.
Hari berlalu. Satu minggu.
Aku tetap keras kepala.
Sampai akhirnya… kata-kata ayah benar-benar menghantam hatiku.
Aku sadar.
Aku mungkin lelah… tapi ibuku pasti jauh lebih lelah.
Aku mungkin terluka… tapi ibuku menanggung lebih banyak luka dari yang aku tahu.
Dan saat itu… aku memilih untuk pulang.
Untuk meminta maaf.
Untuk menjadi anak yang lebih baik.
Aku memang keras. Aku memang sulit mengendalikan emosi.
Tapi aku tidak ingin selamanya seperti itu.
Karena aku tahu… aku tumbuh dari keluarga yang tidak sempurna.
Tapi penuh cinta.
Dan itu lebih dari cukup.
Kadang aku bertanya:
“Kalau aku tidak mendapat sosok ayah di rumah… apa aku salah jika mencarinya di orang lain?”
Dan jawabannya sekarang… aku tidak perlu mencarinya lagi.
Karena aku sudah menemukannya.
Hanya satu pesanku untuk ayah:
“Bagaimana kabarnya tangan yang dulu sering memindahkan aku ke kamar setiap kali aku tertidur di depan televisi?”
Bagaimana kabar tangan itu?
Kini mungkin sudah menua. Sudah mulai keriput.
Tapi bagiku…
Tangan itu akan selalu abadi dalam ingatan.
@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya
Salam SatSet