Lompat ke konten
Home » BERITA PRESTASI SEKOLAH » Cerpen: Jejak yang Menyiksa

Cerpen: Jejak yang Menyiksa

👁 9

@Penulis: Evianti (Murid Kelas XII SMAN 1 Sangatta Selatan)

Hari itu terasa berbeda. Zara merasakan angin sepoi-sepoi yang menyentuh wajahnya saat ia duduk di bangku taman yang sudah usang. Bangku itu adalah tempat favoritnya sejak kecil, dan hari ini, setelah bertahun-tahun, ia kembali ke tempat ini.

 Ada sesuatu yang mengaitkan kenangan lama di sini, sesuatu yang belum sepenuhnya dia lepaskan.Ia teringat pada Raven, teman lamanya yang dulu sering bermain di taman ini. Mereka berdua adalah sahabat karib. Berlarian di antara pohon-pohon besar, bermain petak umpet, atau hanya sekadar duduk dan berbicara tentang mimpi-mimpi mereka. Namun, Raven tiba-tiba menghilang dari kehidupannya tanpa jejak beberapa tahun lalu, dan hingga kini, Zara belum pernah mendengar kabar darinya lagi.Hari itu, matahari bersinar cerah, seolah-olah taman ini sudah menunggu kedatangannya.

Zara memutuskan untuk berjalan-jalan, berharap bisa menemukan secercah kenangan dari masa lalu. Di tengah-tengah perjalanan, ia melihat seorang pria tua duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya duduk. Pria itu memegang sebuah buku yang tampaknya sudah sangat tua.Zara merasa dorongan aneh untuk mendekati pria itu. Dengan hati-hati, ia mendekat dan mengamati buku yang sedang dibaca. Pria itu, menyadari kedatangan Zara, menutup bukunya dan tersenyum. “Selamat pagi,” ucap Zara lembut.“Selamat pagi juga,” jawab pria tua itu dengan suara yang lembut. “Ada yang bisa saya bantu? ”Zara merasa ada sesuatu yang familiar dalam tatapan pria tersebut. “Maaf, saya hanya merasa seperti mengenal tempat ini dan… mungkin ada seseorang yang saya cari. Namanya Raven. Apakah Anda pernah mendengar namanya?” Pria itu terlihat sedikit terkejut, namun kemudian tersenyum lembut. “Raven? Ya, aku mengenalnya. Dia adalah sahabatku dulu. Sayangnya, dia telah pergi jauh dari sini. ”Jantung Zara berdebar kencang. “Pergi jauh? Kemana dia pergi? ”Pria tua itu menghela napas panjang. “Dia meninggalkan jogja untuk mencari petualangan. Tapi aku mendengar kabar bahwa dia kini tinggal di kota besar yang jauh dari sini, yaitu sangatta terlibat dalam banyak hal yang sangat berbeda dari kehidupan yang kita kenal. ”Zara merasa campur aduk antara bahagia dan sedih. “Apakah Anda tahu bagaimana saya bisa mencarinya?” Pria itu mengeluarkan sebuah alamat dari dalam sakunya dan memberikannya pada Zara. “Ini adalah alamat terakhir yang aku tahu. Mungkin ini bisa membantumu.” Zara memandang alamat tersebut dengan penuh rasa syukur. “Terima kasih banyak.” Sambil berjalan menuju pintu keluar taman Venus, Zara merasa seperti membawa beban yang lebih ringan di hatinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi setidaknya, ia tahu bahwa ia memiliki kesempatan untuk menemukan teman lamanya dan mungkin menghidupkan kembali beberapa kenangan indah dari masa lalu.

 Tentu, saya akan melanjutkan cerita tersebutZara membawa alamat itu dengan penuh harapan. Dalam beberapa hari berikutnya, ia menghubungi kontak yang tertera di alamat tersebut dan mengetahui bahwa Raven kini tinggal perumahan Villa Nusa indah. Dengan tekad yang kuat, Zara merencanakan perjalanan ke kota sangatta, penuh dengan campur aduk perasaan antara kegembiraan dan kecemasan. Sesampainya di kota sangatta, Zara merasa seperti berada di dunia yang sama sekali berbeda dari taman kecil yang ia tinggalkan.

Gedung-gedung tinggi dan keramaian jalanan menggantikan pemandangan hijau dan tenang yang dikenalnya. Ia mengikuti petunjuk ke alamat yang diberikan, akhirnya tiba di sebuah gedung apartemen tua yang agak terabaikan. Dengan sedikit kegugupan, Zara menaiki tangga menuju lantai tempat apartemen Raven berada. Setiap langkah terasa lebih berat, namun tekadnya tidak goyah. Ketika ia akhirnya berdiri di depan pintu apartemen nomor 42, ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu. Pintu terbuka dan di depan matanya berdiri seorang pria yang tampak sedikit terkejut. Zara melihat ke dalam mata pria itu dan mengenali sosok yang tidak berubah banyak dari masa lalu. Raven, meski wajahnya sedikit lebih berkerut dan tubuhnya lebih tua, tetap memiliki senyum yang sama yang dikenalnya.

“Raven?” Zara bertanya, suaranya bergetar. Raven menatapnya beberapa saat, lalu senyum melintas di wajahnya. “Zara? Apa benar ini kamu?” “Ya, ini aku,” jawab Zara, dengan air mata yang mulai menggenang di matanya. “Aku akhirnya menemukanmu. ”Mereka berpelukan erat, saling merasakan kehangatan yang selama ini hilang. Setelah berbincang dan mengisi kekosongan bertahun-tahun, Raven mengundang Zara masuk ke apartemennya. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berbagi cerita, mengenang masa lalu, dan saling bercerita tentang perjalanan hidup mereka masing-masing. Zara merasa seperti menemukan bagian dari dirinya yang hilang. Raven menjelaskan bagaimana ia merindukan tempat dan teman-temannya, tetapi merasa perlu meninggalkan segala sesuatu untuk mengejar impian baru. Sekarang, dengan bertemu kembali, ia menyadari betapa pentingnya hubungan mereka dalam hidupnya”.  Aku minta maaf karena tidak pernah memberitahumu ke mana aku pergi,” kata Raven. “Namun, aku sangat bersyukur kamu mencariku. ”Zara tersenyum penuh rasa syukur. “Aku juga senang akhirnya menemukanmu. Kita mungkin telah menjalani jalan yang berbeda, tetapi kita masih memiliki kenangan indah yang sama. ”Hari itu menjadi awal dari babak baru dalam hidup mereka, di mana mereka berjanji untuk tetap saling mendukung dan menjaga hubungan mereka, meskipun dengan jarak dan waktu yang terus berjalan.

X