Lompat ke konten
Home » BERITA PRESTASI SEKOLAH » Cerpen : Kotak Musik yang Memainkan Debu

Cerpen : Kotak Musik yang Memainkan Debu

  • ARTIKEL

@Penulis: Aditia Asis (Murid Kelas XII SMAN 1 Sangatta Selatan)

Foto: Aditia Asis (Murid Kelas XII SMAN 1 Sangatta Selatan)

Kiyel selalu menganggap loteng rumah neneknya sebagai museum yang dilupakan. Setiap sudutnya dipenuhi kenangan yang tak terurus, tumpukan majalah lama yang menguning, koper-koper usang dengan stiker perjalanan yang pudar, dan sebuah aroma khas perpaduan kayu lapuk dan nostalgia. Namun, di antara semua itu, ada satu benda yang menarik perhatiannya: sebuah kotak musik kecil yang tergeletak di sudut paling gelap. Kotak itu terbuat dari kayu mahoni yang sudah menghitam dimakan usia, dengan ukiran bunga-bunga yang hampir tak bisa dikenali. Engselnya berkarat, dan permukaannya diselimuti debu tebal debu yang seakan-akan telah menunggu bertahun-tahun untuk disentuh.

Matthew, sahabat Kiyel, duduk di sampingnya, mengamati dengan mata penuh rasa penasaran. “Coba buka,” kata Matthew, suaranya pelan. Kiyel membersihkan debu di atas kotak itu dengan ujung jarinya. Sebuah tombol kecil terlihat, dan ia menekan tombol tersebut. Kotak itu terbuka dengan bunyi “klik” yang serak. Di dalamnya, tidak ada melodi atau boneka penari balet yang berputar. Hanya ada kekosongan yang dipenuhi debu. Kiyel menghela napas, kecewa. “Kosong. Cuma debu,” gumamnya. “Kotak musik rusak.””Mungkin bukan,” sahut Matthew. Ia mengambil kotak itu dan memutarnya perlahan. “Kau tahu, ada hal-hal yang tidak bersuara, tapi punya cerita. Mungkin ini kotak musik yang memainkan debu. Memainkan ingatan, bukan melodi.” Kiyel menatap Matthew dengan tatapan skeptis. “Kau terlalu banyak membaca buku fantasi.” “Mungkin. Tapi coba lagi,” desak Matthew.  Ia menunjuk sebuah engkol kecil di samping kotak. “Putar itu.” Dengan ragu, Kiyel memutar engkolnya. Awalnya, tidak ada apa-apa. Namun, saat engkolnya berputar penuh, sebuah sensasi aneh menjalar. Kiyel tidak mendengar apa pun, tetapi ia melihat sesuatu. Seperti sebuah film bisu yang diputar di dalam benaknya.

Ia melihat neneknya, masih gadis muda dengan gaun sederhana, tertawa lepas sambil mengejar kupu-kupu di kebun belakang. Debu-debu di dalam kotak itu seolah-olah berputar, membentuk siluet dari adegan itu. Sebuah melodi yang sangat samar, seperti bisikan angin, mengiringi adegan itu. Itu adalah memori, bukan suara. “Aku… aku melihat Nenek,” bisik Kiyel, matanya berbinar. Matthew tersenyum, seolah ia sudah tahu. “Ini luar biasa.” Sejak hari itu, loteng yang dulunya sepi kini menjadi tempat rahasia mereka. Mereka berdua sering menghabiskan sore di sana, bergantian memutar engkol kotak musik itu. Mereka melihat kakek Kiyel yang gagah sedang memperbaiki sepeda, tawa riang anak-anak yang berlarian, dan sepasang kekasih yang saling melempar senyum di bawah pohon mangga ternyata itu nenek dan kakek Kiyel saat muda. Kotak musik itu menjadi saksi bisu dari semua cerita yang terlewatkan.

Debu di dalamnya bukan lagi sekadar kotoran, melainkan partikel-partikel dari masa lalu yang menyimpan jiwa dan kenangan. Setiap putaran engkol adalah pintu menuju babak baru dalam sejarah keluarga Kiyel. Mereka belajar tentang kisah cinta yang tumbuh di rumah itu, tentang persahabatan yang kokoh, dan tentang berbagai momen sederhana yang membentuk kehidupan. Suatu sore, saat mereka berdua duduk diam setelah memutar engkol terakhir, Matthew bertanya, “Apakah debu ini akan habis? Jika kita terus memutarnya, apakah ceritanya juga akan selesai?” Kiyel tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia menatap kotak musik di tangannya dengan penuh kehangatan. “Tidak, Mat. Selama ada kenangan yang disimpan, akan selalu ada debu yang menari di dalamnya. Dan selama kita memutarnya, cerita itu akan terus hidup.”

Kotak musik itu membuktikan bahwa keindahan tidak selalu ada dalam suara yang merdu, tetapi juga dalam keheningan yang penuh makna. Ia mengajarkan mereka bahwa setiap benda, bahkan yang terlihat paling tidak berharga sekalipun, bisa menjadi wadah untuk sebuah cerita yang tak akan pernah usang

@SMANSatSet – Cepat Belajar Cepat Tanggap Cepat Berkarya

Salam SatSet

X