Lompat ke konten
Home » BERITA PRESTASI SEKOLAH » MUTIARA Day 12: Menuju Pembentukan Jiwa Takwa

MUTIARA Day 12: Menuju Pembentukan Jiwa Takwa

Marvel Vito Favian
Penulis
Marvel Vito Favian Murid Kelas X SMAN 1 Sangatta Selatan
Dewi Meiz
Editor
Dewi Meiz SMAN 1 Sangatta Selatan
MUTIARA Day 12 SMAN 1 Sangatta Selatan 2026 – Menuju Pembentukan Jiwa Takwa

“The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.” – Aristotle

Di saat sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya, kami murid SMANSATSET justru memulai pagi dengan lantunan Hadist dan tausiyah Ramadhan yang penuh makna. Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi bukti bahwa bulan suci mampu menghidupkan semangat spiritual generasi muda. Suasana yang dipandu dengan hangat oleh MC, Keisya Fitri kelas XI-3, membangkitkan semangat kebersamaan. Ramadhan di sekolah bukan hanya tentang kewajiban berpuasa, melainkan tentang proses pembentukan karakter dan pendewasaan iman.

MUTIARA Day 12 SMAN 1 Sangatta Selatan 2026

Keutamaan Menuntut Ilmu sebagai Pembuka Acara

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan hadis oleh Muhammad Rain Kelas XII-2 tentang balasan bagi orang yang menuntut ilmu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Dalam riwayat yang lebih lengkap dijelaskan bahwa para malaikat merendahkan sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu dan seluruh makhluk memohonkan ampunan baginya. Hadis ini mengandung pesan bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan dan keselamatan. Menuntut ilmu bukan sekadar mengejar nilai akademik, melainkan ibadah yang mengantarkan seseorang menuju surga. Pesan ini sangat relevan dalam suasana Ramadhan, di mana setiap amal baik memiliki nilai yang berlipat ganda di sisi Allah.

Suasana Tausiyah MUTIARA Day 12 SMANSatSet

Tausiyah Pertama: Ramadhan, Latihan Menuju Ketakwaan

Tausiyah pertama yang disampaikan oleh Annisa Tri Aulia (XI-3) menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Penekanan pada tujuan “agar kamu bertakwa” menunjukkan bahwa inti puasa adalah pembentukan karakter dan kesadaran spiritual.

Annisa juga menyampaikan hadis Nabi Muhammad ﷺ dalam riwayat Imam Bukhari yang berbunyi: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” Hadis ini memperjelas bahwa puasa bukan hanya menahan kebutuhan fisik, tetapi juga menahan emosi, hawa nafsu, dan kebohongan.

Ia kemudian menambahkan QS. Al-Baqarah ayat 185 yang menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Hal ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan ruhani. Puasa juga istimewa karena sifatnya yang tersembunyi dan sulit dipamerkan; hanya diri sendiri dan Allah yang mengetahui kualitasnya. Di sinilah letak nilai keikhlasan yang dilatih selama Ramadhan. Tausiyah ini ditutup dengan pesan bahwa Ramadhan adalah proses, dan setiap individu diberi kesempatan untuk terus memperbaiki diri secara bertahap.

Tausiyah Kedua: Ramadhan sebagai Kesempatan Emas Pengampunan

Tausiyah kedua disampaikan oleh Aditiya Asis (XII-1) yang menyoroti Ramadhan sebagai momentum pengampunan dosa. Ia menyampaikan sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah peluang luar biasa untuk membersihkan diri dari kesalahan masa lalu. Namun, syaratnya adalah iman dan keikhlasan.

Aditiya juga menekankan bahwa Ramadhan melatih pengendalian hawa nafsu dan menumbuhkan tanggung jawab spiritual. Dari kebiasaan sederhana seperti bangun sahur, membaca Al-Qur’an, hingga berbagi dengan sesama, semuanya membentuk disiplin dan kepedulian sosial. Ia mengingatkan bahwa menjaga makanan yang halal saja tidak cukup; lisan juga harus dijaga dari perkataan yang menyakiti. Puasa menjadi sarana penyucian diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin.

Tausiyah Ketiga: Ramadhan sebagai Bulan Hijrah dan Perubahan

Tausiyah ketiga disampaikan oleh Riski Ananda Rahayu yang menekankan keistimewaan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185. Ia juga menyampaikan hadis Nabi bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Selain itu, ia mengingatkan kembali hadis tentang keutamaan puasa dengan iman dan mengharap pahala yang akan menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Riski menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan hijrah, bulan perubahan menuju kebaikan. Puasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari, serta memperbanyak sedekah adalah bentuk latihan spiritual yang membentuk kebiasaan baik.

Seseorang yang sebelumnya malas shalat dapat menjadi rajin, yang jarang membaca Al-Qur’an menjadi lebih konsisten, dan yang kurang peduli menjadi lebih empati terhadap sesama. Ramadhan mengajarkan kepedulian sosial, misalnya dengan merasakan lapar sehingga tumbuh keinginan untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Tausiyah ini ditutup dengan ajakan agar kesempatan Ramadhan tidak disia-siakan.

Refleksi Kepala Sekolah dan Guru

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah Bapak Rubito menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tausiyah ini. Beliau menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan karakter. Refleksi yang disampaikan oleh beliau dan beberapa guru lainnya memperkuat pesan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk menanamkan nilai tanggung jawab, kedisiplinan, dan kepedulian dalam diri siswa.

Penutup dan Kesimpulan

Acara ditutup kembali oleh MC dengan penuh harapan agar pesan-pesan yang disampaikan pada kegiatan MUTIARA ini tidak berhenti sebagai seremonial semata. Secara keseluruhan, rangkaian tausiyah Ramadhan di SMANSATSET membuktikan bahwa bulan suci ini adalah ruang transformasi diri.

Dari keutamaan menuntut ilmu hingga makna puasa yang hakiki, seluruh materi mengarah pada satu tujuan, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menata ulang arah kehidupan menjadi lebih baik.

@SMANSatSetCepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya

Salam SatSet

X