MUTIARA hari ketiga belas dilaksanakan pada Selasa, 3 Maret 2026. Kegiatan ini dibuka oleh Nur Salsa Rikmana dari kelas XI-3 yang bertugas sebagai MC.
Dengan penuh semangat dan pembawaan yang hangat, ia memandu jalannya acara sejak awal hingga akhir. Dalam pengantarnya, ia mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan momentum untuk memperbarui niat, memperkuat iman, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Suasana pagi itu terasa khusyuk dan sarat kesadaran spiritual.
Ia juga menekankan bahwa setiap detik di bulan Ramadhan adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan. Bulan suci ini merupakan ruang latihan untuk memperbaiki diri, membangun karakter, serta meningkatkan kualitas ibadah. Dengan pembukaan yang menyentuh tersebut, seluruh peserta tampak siap mengikuti rangkaian kegiatan dengan hati yang terbuka dan penuh antusias.
Pembacaan QS. Al-Baqarah Ayat 153
Azzah Althaf Aqila (XII-5) membacakan QS. Al-Baqarah ayat 153 yang berisi perintah untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui sabar dan shalat. Ayat ini mengajarkan bahwa dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, seorang mukmin hendaknya bersabar dan memperbanyak doa sebagai bentuk ketundukan kepada Allah.
Sabar bukan sekadar menahan diri dari emosi atau keluhan, tetapi merupakan keteguhan hati dalam menjalankan ketaatan serta ketabahan dalam menghadapi ujian. Shalat menjadi sarana komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya, tempat mencurahkan harapan dan menggantungkan pertolongan. Dalam konteks Ramadhan, ayat ini sangat relevan karena puasa melatih kesabaran, sementara shalat memperkuat ketahanan spiritual sehingga jiwa menjadi lebih tenang dan terarah.
Tausiyah Pertama: Sholat Tiang Agama
Tausiyah pertama disampaikan oleh Ahmad Nawfal A (XII-4) dengan tema “Sholat Tiang Agama.” Ia menegaskan bahwa shalat adalah fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Tanpa shalat, bangunan keimanan menjadi rapuh dan mudah runtuh. Oleh karena itu, menjaga shalat berarti menjaga hubungan dengan Allah.
Di bulan Ramadhan, ibadah shalat semakin ditekankan melalui pelaksanaan tarawih dan qiyamullail. Shalat melatih kedisiplinan waktu, kerendahan hati, serta tanggung jawab pribadi. Puasa yang dijalankan seharusnya berdampak pada meningkatnya kualitas shalat, sehingga ibadah tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi benar-benar menghadirkan kekhusyukan dan perubahan sikap dalam kehidupan sehari-hari, bahkan setelah Ramadhan berakhir.
Tausiyah Kedua: Pentingnya Berbuat Baik
Tausiyah kedua disampaikan oleh Raudah Miftahul J (X-6) dengan tema “Pentingnya Berbuat Baik.” Dalam penyampaiannya, Raudah menjelaskan bahwa kebaikan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti tersenyum, membantu teman yang kesulitan, berbagi makanan, atau berkata dengan tutur kata yang lembut. Meski terlihat kecil, kebaikan sederhana memiliki dampak besar, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan.
Ia juga mengingatkan bahwa berbuat baik bukan hanya memberikan manfaat bagi orang lain, tetapi juga membawa ketenangan dan kebahagiaan bagi diri sendiri. Sebaliknya, perbuatan buruk dapat merusak hubungan sosial serta menjauhkan diri dari keberkahan. Ramadhan menjadi momentum yang tepat untuk membiasakan diri menebar kebaikan secara konsisten.
Tausiyah Ketiga: Makna Sabar
Tausiyah ketiga kembali disampaikan oleh Azzah Althaf Aqila (XII-5) dengan tema “Makna Sabar.” Ia menjelaskan bahwa sabar terbagi menjadi tiga bagian, yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian kehidupan. Ketiganya merupakan bagian penting dari ibadah dan bukti kekuatan iman seseorang.
Ia mengaitkan kembali dengan QS. Al-Baqarah ayat 153 yang menyatakan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Kebersamaan Allah inilah yang menjadi sumber kekuatan utama bagi seorang mukmin. Di bulan Ramadhan, kesabaran dilatih secara nyata melalui puasa, pengendalian diri, serta peningkatan ibadah lainnya. Dengan sabar, seseorang akan lebih mudah meraih ketenangan dan kedewasaan spiritual.
Tausiyah Keempat dan Pembacaan Hadis tentang Syukur
Tausiyah keempat disampaikan oleh Destafachriandry S.P (XI-2). Ia menjelaskan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183. Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga melatih kesadaran diri, kedisiplinan, empati terhadap sesama, serta penguatan karakter.
Selanjutnya, hadis yang dibacakan oleh Zahkia Khairina menyampaikan bahwa orang yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Pesan ini menegaskan pentingnya menghargai dan mengapresiasi sesama sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Sikap saling menghargai akan memperkuat persaudaraan dan menciptakan lingkungan yang harmonis.
Acara kemudian ditutup dengan evaluasi dan pesan reflektif dari bapak dan ibu guru. Dalam penutupnya, MC kembali mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan pembelajaran, perbaikan diri, serta momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Suasana berakhir dengan hangat dan penuh harapan, meninggalkan semangat bagi seluruh peserta untuk terus meningkatkan kualitas iman dan amal hingga akhir Ramadhan, bahkan dalam kehidupan setelahnya.
@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya
Salam SatSet