MUTIARA hari ketujuh belas dilaksanakan pada Sabtu, 7 Maret 2026. Seperti hari-hari sebelumnya, fajar di bulan suci Ramadan kembali disambut dengan kegiatan Dakwah Digital MUTIARA (Motivasi dan Tausiyah Pagi Ramadhan). Kumandang adzan subuh menggema, menjadi panggilan suci dari Sang Pencipta kepada hamba-Nya untuk beribadah dan mendekatkan diri. Seusai melaksanakan shalat subuh, para murid dengan penuh semangat segera memasuki ruang virtual untuk mengikuti rangkaian kegiatan yang sarat dengan ilmu dan inspirasi.
Berbeda dari biasanya, MUTIARA pada hari ketujuh belas ini terasa semakin istimewa. Tausiyah tidak hanya disampaikan oleh murid dari satu sekolah, tetapi oleh para pelajar hebat dari berbagai daerah di Kalimantan Timur. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa semangat dakwah dan ukhuwah Islamiyah mampu menyatukan generasi muda dalam satu majelis ilmu, meskipun terpisah oleh jarak.
Acara dibuka dan dipandu dengan hangat oleh Azizah Salina selaku MC. Dengan pembawaan yang ramah dan penuh semangat, ia menyapa seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan MUTIARA. Pada kesempatan ini, terdapat sembilan sekolah yang mengirimkan perwakilan penceramah, yaitu SMAN 1 Sangatta Selatan, SMAN 1 Samarinda, SMAN 1 Loa Kulu, SMAN 1 Long Iram, SMAN 5 Penajam Paser Utara, SMAN 2 Bontang, SMAN 1 Balikpapan, SMAN 5 Berau, dan SMAN 1 Tanah Grogot. Kehadiran para perwakilan ini menambah warna sekaligus memperkuat semangat persaudaraan di antara pelajar Kalimantan Timur.
Sebelum memasuki rangkaian tausiyah, acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdu oleh Azira Rahmadina, murid kelas X dari SMAN 1 Sangatta Selatan. Suara tilawah yang syahdu menghadirkan suasana khusyuk dan menenangkan hati para peserta. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari keynote speaker Bapak Rubito, S.Pd, M.Pd, selaku Kepala SMAN 1 Sangatta Selatan, yang menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya menjaga semangat dakwah di kalangan pelajar. Beliau berharap kegiatan dakwah digital seperti MUTIARA dapat menjadi sarana menebarkan nilai-nilai kebaikan serta membentuk generasi muda yang berakhlak mulia.
Tausiyah Pertama: Armellia Jami Ananda (SMAN 1 Samarinda)
Dalam tausiyah pertama, Armellia Jami Ananda menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan seharusnya tidak dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Justru sebaliknya, Ramadan merupakan momentum terbaik untuk meningkatkan produktivitas dalam kebaikan. Di bulan yang penuh keberkahan ini, setiap amal baik memiliki nilai yang berlipat ganda.
Ia mengajak para pelajar untuk mengisi waktu dengan berbagai kegiatan positif, seperti mengikuti pesantren kilat, kajian keislaman, maupun aktivitas yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Armellia juga mengingatkan tentang sejarah perjuangan umat Islam pada masa lalu yang tetap berjuang dan beribadah meskipun berada dalam kondisi sulit. Hal ini menjadi pelajaran bahwa puasa bukanlah penghalang untuk tetap berkarya dan berbuat baik.
Tausiyah Kedua: Ahmad Zullfahmi (SMAN 1 Sangatta Selatan)
Pada tausiyah kedua, Ahmad Zullfahmi menjelaskan bahwa terdapat tiga kunci utama menuju kemuliaan, yaitu tekad, ilmu, dan adab. Menuntut ilmu bukan sekadar pilihan, melainkan perintah dalam agama. Banyak orang ingin menjadi pandai, tetapi tidak semua memiliki kesungguhan untuk berusaha.
Ia menekankan bahwa ilmu adalah sesuatu yang berharga dan memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Rasa malas hanya akan membawa penyesalan di masa depan. Oleh karena itu, seorang pelajar harus memiliki semangat belajar yang tinggi serta menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu dan kerja keras tidak akan sempurna tanpa hati yang bersih dan akhlak yang baik.
Tausiyah Ketiga: Muhammad Yossy Pratista (SMAN 1 Loa Kulu)
Muhammad Yossy Pratista dalam tausiyahnya mengangkat tema tentang kekuatan kalimat istighfar dalam kehidupan manusia. Ia menjelaskan bahwa istighfar berarti memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Namun, istighfar bukan hanya berkaitan dengan pengampunan dosa. Lebih dari itu, istighfar juga menjadi pintu datangnya kemudahan, ketenangan hati, serta kelapangan rezeki. Terkadang kesulitan hidup yang dialami seseorang terjadi karena hati yang jarang dibersihkan dari dosa. Dengan memperbanyak istighfar, hati akan menjadi lebih tenang dan kehidupan terasa lebih ringan.
Tausiyah Keempat: Jumadil Irsyad (SMAN 1 Long Iram)
Dalam tausiyahnya, Jumadil Irsyad membahas tantangan generasi Z di era digital. Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki banyak kelebihan, seperti cepat belajar, kreatif, dan mudah beradaptasi dengan teknologi. Namun, teknologi juga dapat menjadi seperti pisau bermata dua jika tidak digunakan dengan bijak.
Ia menyampaikan tiga kunci agar generasi muda tetap berada di jalan kebaikan di era digital. Pertama adalah niat, yaitu meniatkan penggunaan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Kedua adalah satset dalam menggunakan waktu, yakni memanfaatkan waktu secara efektif untuk belajar dan mengembangkan diri. Ketiga adalah satset dalam menjaga diri, karena godaan tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari layar yang berada di genggaman tangan.
Tausiyah Kelima: Adhwa Afnan Hadi (SMAN 5 Penajam Paser Utara)
Adhwa Afnan Hadi menyoroti fenomena banyaknya anak muda yang mengikuti hawa nafsu sehingga terjerumus dalam perilaku yang tidak baik. Ia mencontohkan beberapa tren yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai agama, seperti berpacaran secara bebas atau memperlihatkan aurat.
Menurutnya, ketika seseorang dikuasai oleh hawa nafsu, maka ia akan dengan mudah melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk memilih lingkungan pergaulan yang baik. Cara terbaik untuk mengendalikan hawa nafsu adalah dengan memperkuat iman melalui ibadah, memperbanyak shalat, dzikir, dan istighfar.
Tausiyah Keenam: Fauzan Adhimsyah (SMAN 1 Balikpapan)
Dalam tausiyah keenam, Fauzan Adhimsyah mengingatkan bahwa manusia diciptakan untuk selalu dekat dengan Allah SWT. Jika hidup terasa gelisah dan tidak tenang, bisa jadi itu merupakan tanda bahwa hati belum sepenuhnya terhubung dengan Sang Pencipta.
Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini sangat singkat. Banyak orang terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga lupa mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Oleh karena itu, selagi masih diberi kesempatan hidup, hendaknya setiap manusia memperbaiki ibadah dan memperbanyak mengingat Allah.
Tausiyah Ketujuh: Muhammad Fauzan Pratama (SMAN 5 Berau)
Muhammad Fauzan Pratama menjelaskan bahwa tujuan utama dari ibadah puasa adalah menjadikan manusia sebagai pribadi yang bertakwa. Memasuki pertengahan bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri terhadap kualitas ibadah yang telah dijalani.
Ia juga mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus tanpa memperoleh pahala. Oleh karena itu, Ramadan harus dimanfaatkan untuk memperbaiki sikap, mempererat silaturahmi, serta memperbanyak amal ibadah. Fauzan juga mengingatkan tentang kemuliaan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Tausiyah Kedelapan: Syandi Arrahman (SMAN 1 Tanah Grogot)
Dalam tausiyahnya, Syandi Arrahman menjelaskan bahwa puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang beriman. Tujuan utama dari puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, yaitu pribadi yang tunduk dan taat kepada Allah serta menjauhi segala larangan-Nya.
Ia juga menekankan bahwa pada bulan Ramadan, pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, umat Islam yang masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadan seharusnya memanfaatkannya sebaik mungkin dengan meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri.
Tausiyah Kesembilan: Nabil Athaya (SMAN 2 Bontang)
Tausiyah terakhir disampaikan oleh Nabil Athaya, yang mengajak para peserta untuk melakukan refleksi terhadap ibadah puasa yang telah dijalani. Ia mengingatkan tentang kemuliaan malam Lailatul Qadar, malam yang sangat dinantikan oleh umat Islam karena nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Namun demikian, ia menekankan bahwa ibadah tidak seharusnya hanya dilakukan pada malam-malam tertentu saja. Fenomena yang sering terjadi adalah masjid yang penuh pada awal Ramadan, tetapi semakin hari jumlah jamaah semakin berkurang. Oleh karena itu, umat Islam perlu menjaga konsistensi dalam beribadah sepanjang bulan Ramadan.
Nabil juga mengajak para peserta untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan berbagai amalan, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, serta berdoa kepada Allah SWT. Dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, Ramadan dapat menjadi ladang pahala yang sangat berharga.
Di penghujung acara, kegiatan diakhiri dengan sesi refleksi yang disampaikan oleh Ibu Yulia Hariati dari SMAN 1 Long Iram, Bapak Waryono dari SMAN 5 PPU, serta Ibu Yessi Herlina dari SMAN 1 Loa Kulu. Ketiganya menyampaikan apresiasi dan harapan agar kegiatan MUTIARA terus berlanjut sebagai wadah pembinaan karakter serta penguatan spiritual bagi para pelajar.
Melalui kegiatan ini, semangat dakwah, ukhuwah, dan pencarian ilmu di kalangan generasi muda semakin terasa kuat. MUTIARA bukan hanya menjadi ruang berbagi tausiyah, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antarpelajar serta menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai Islam di bulan suci Ramadan.
@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya
Salam SatSet