Cahaya fajar Ramadan kembali menyapa, membawa aroma ampunan yang menenangkan jiwa yang gelisah. Dalam dekap hangat ukhuwah pagi ini, mari sejenak berhenti dari riuh rendahnya dunia untuk menyimak pesan cinta-Nya. Tak terasa, kita telah sampai di hari kedua puluh lima bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah yang sepatutnya kita isi dengan berbagai kegiatan yang positif dan bermanfaat.
Seusai sahur dan menunaikan ibadah shalat subuh, kegiatan MUTIARA (Motivasi dan Tausiyah Pagi Ramadan) kembali hadir mengisi waktu fajar kita, tepat di hari ini Ahad, 15 Maret 2026. Melalui sebuah tautan aplikasi Zoom, kita dapat berkumpul dan bersilaturahmi secara daring tanpa harus keluar dari rumah. Meskipun terpisah jarak dan tempat, semangat menuntut ilmu serta menyebarkan kebaikan tetap terasa hangat dan menyatukan.
Kegiatan MUTIARA pagi ini terasa semakin istimewa karena menghadirkan para penceramah muda inspiratif yang tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Timur Tengah. Ruang virtual perlahan dipenuhi oleh para penimba ilmu yang antusias menyambut tausiyah pagi hari. Pada kesempatan ini, tausiyah disampaikan oleh Alifa Khairunnisa (SMAN 1 Sangatta Selatan, Indonesia), Muhammad Nabil Fattan Luthfiansyah (Sekolah Indonesia Jeddah, Arab Saudi), Adib Nabil Hasan Makki (Sekolah Indonesia Makkah, Arab Saudi), dan Muhammad Zakarya Sutarya (Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir). Keempatnya merupakan pelajar inspiratif yang membawa perspektif dan pengalaman berharga dari lingkungan belajar masing-masing.
Acara diawali dengan penuh semangat oleh MC Agripina Putri Cahya A. dari SMAN 1 Sangatta Selatan. Dengan pembawaan yang ramah dan penuh percaya diri, ia memandu jalannya acara sehingga suasana pagi terasa hangat dan penuh energi positif. Keberkahan acara semakin terasa melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan merdu oleh Andi Almira Jasmine, salah satu siswi SMAN 1 Sangatta Selatan. Tilawah tersebut menjadi pembuka yang menenangkan hati sekaligus mengingatkan para peserta akan keagungan firman Allah SWT.
Tausiyah Pertama: Alifa Khairunnisa
(SMAN 1 Sangatta Selatan, Indonesia)
Tausiyah pertama disampaikan oleh Alifa Khairunnisa dengan tema “Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua (Birrul Walidain)”. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa berbakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban moral, tetapi merupakan perintah langsung dari Allah SWT. Ridha Allah sangat erat kaitannya dengan ridha kedua orang tua.
Alifa juga mengangkat kisah seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik. Rasulullah SAW menjawab, “Ibumu” hingga tiga kali sebelum menyebut “ayahmu”. Hal ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak dengan penuh pengorbanan. Kisah tersebut menjadi pengingat bagi kita untuk selalu memuliakan dan menghormati orang tua dalam setiap aspek kehidupan.
Lebih jauh lagi, Alifa menekankan bahwa orang tua adalah madrasah pertama dalam kehidupan. Mereka adalah sosok yang membentuk karakter, memberikan pendidikan awal, serta menyediakan berbagai fasilitas demi masa depan anak-anaknya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita menjaga tutur kata, memperbaiki sikap, dan berusaha menjadi sumber kebahagiaan bagi mereka. Dengan berbakti kepada orang tua, kita tidak hanya meraih keberkahan hidup di dunia, tetapi juga membuka jalan menuju kebahagiaan di akhirat.
Tausiyah Kedua: Muhammad Nabil Fattan Luthfiansyah
(Sekolah Indonesia Jeddah, Arab Saudi)
Tausiyah kedua disampaikan oleh Muhammad Nabil Fattan Luthfiansyah yang berbagi pengalaman spiritual selama berada di Tanah Suci, khususnya di Masjidil Haram. Ia menggambarkan bagaimana jutaan manusia dari berbagai bangsa, ras, dan latar belakang berkumpul dalam satu tempat dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT.
Di Masjidil Haram, segala perbedaan seolah melebur. Warna kulit, bahasa, maupun status sosial tidak lagi menjadi penghalang. Semua berdiri sejajar sebagai hamba Allah yang sama-sama mencari ridha-Nya. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga tentang arti toleransi, persaudaraan, dan kesetaraan dalam Islam.
Nabil juga menceritakan fenomena buka puasa bersama di Masjidil Haram yang penuh dengan semangat berbagi. Banyak orang yang dengan tulus menyediakan makanan bagi siapa saja yang membutuhkan, bahkan tanpa mengenal siapa penerimanya. Hal ini menunjukkan bahwa empati dan kepedulian merupakan nilai universal yang harus kita pelihara.
Melalui pengalaman tersebut, Nabil mengajak para peserta untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan diri. Nilai-nilai toleransi, kepedulian, dan persaudaraan yang dirasakan di Tanah Suci hendaknya kita bawa ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling menguatkan.
Tausiyah Ketiga: Adib Nabil Hasan Makki
(Sekolah Indonesia Makkah, Arab Saudi)
Adib Nabil Hasan Makki dalam tausiyahnya mengangkat refleksi tentang ibadah haji dan umrah. Ia menjelaskan bahwa perjalanan ke Baitullah bukan sekadar perjalanan fisik ataupun simbol status sosial, melainkan sebuah panggilan suci dari Allah SWT.
Di Tanah Suci, seluruh atribut duniawi dilepaskan. Para jamaah mengenakan pakaian ihram yang sederhana, yang melambangkan kesetaraan manusia di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat ataupun rakyat biasa. Semua datang dengan tujuan yang sama: memenuhi panggilan Allah dan memohon ampunan-Nya.
Adib juga menjelaskan makna mendalam dari setiap rangkaian ibadah haji. Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah mengingatkan kita pada perjuangan Siti Hajar yang penuh kesabaran dan keyakinan. Sementara itu, lempar jumrah mengajarkan tentang keteguhan dalam melawan godaan setan.
Ia menegaskan bahwa haji yang mabrur tidak diukur dari gelar yang disandang setelah pulang dari Tanah Suci, melainkan dari perubahan akhlak yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sejak dini kita perlu mempersiapkan diri dengan memperbaiki karakter, memperbanyak amal saleh, serta memohon kepada Allah agar suatu hari dapat menjadi tamu di rumah-Nya.
Tausiyah Keempat: Muhammad Zakarya Sutarya
(Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir)
Tausiyah terakhir disampaikan oleh Muhammad Zakarya Sutarya dengan tema “Pentingnya Manajemen Waktu”. Ia mengingatkan bahwa waktu adalah amanah dari Allah SWT yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dalam perspektif Islam, waktu bahkan menjadi ukuran keberhasilan hidup manusia, sebagaimana yang ditegaskan dalam Surah Al-‘Ashr.
Zakarya menjelaskan bahwa kehidupan manusia ibarat seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan. Oleh karena itu, setiap detik waktu harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. Masa muda, khususnya, merupakan fase yang sangat berharga untuk menuntut ilmu, memperbanyak amal saleh, serta berkarya bagi umat.
Pengalaman belajarnya di Mesir juga memberikan gambaran tentang pentingnya lingkungan yang mendukung perkembangan ilmu dan spiritualitas. Tradisi majelis ilmu di Universitas Al-Azhar, serta semangat berbagi masyarakat Mesir selama Ramadan, menjadi inspirasi bagi para pelajar untuk membangun kedisiplinan dan visi hidup yang jelas.
Ia mengajak para peserta untuk mulai mengelola waktu dengan baik, menentukan prioritas hidup, serta tidak menunda kebaikan. Dengan demikian, setiap langkah yang kita ambil akan menjadi bagian dari perjalanan menuju keberhasilan yang bermakna.
Penutup
Setelah seluruh tausiyah disampaikan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh MC. Dalam sesi ini, para penceramah berbagi pengalaman menarik dari berbagai daerah, khususnya dari Kota Makkah yang dikenal sebagai kota yang tidak pernah “mati”. Di kota suci tersebut, masyarakat senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan, terutama di bulan Ramadan yang penuh keberkahan.
Sebagai bentuk apresiasi, Bapak Rubito, M.Pd. menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus memberikan penghargaan kepada para pelajar inspiratif yang telah berbagi ilmu dan pengalaman melalui dakwah digital MUTIARA. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa generasi muda mampu menjadi agen kebaikan yang menyebarkan nilai-nilai Islam secara luas.
Pertemuan pagi ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh peserta. Meskipun dipisahkan oleh jarak dan perbedaan geografis, semangat menuntut ilmu dan berdakwah tetap mampu menyatukan hati dalam satu tujuan yang sama.
Forum MUTIARA mengingatkan kita bahwa cahaya ilmu dapat bersinar dari mana saja dan menjangkau siapa saja. Selama semangat belajar dan berbagi kebaikan terus menyala dalam diri kita, jarak tidak akan pernah menjadi penghalang bagi terjalinnya ukhuwah serta lahirnya generasi yang kreatif, berilmu, dan berakhlak mulia.
@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya
Salam SatSet