Dakwah Digital SMAN 1 Sangatta Selatan dengan tagline “Fast with Patience, Pray with Sincerity” menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran dalam setiap keadaan serta menumbuhkan keikhlasan dalam setiap doa dan ibadah. Kesabaran menjaga hati tetap tenang, dan keikhlasan menjadikan setiap amal bernilai di sisi Allah SWT.
MUTIARA hari kelima dilaksanakan pada Senin, 23 Februari 2026, dalam suasana pagi yang penuh ketenangan dan keberkahan. Kegiatan ini dipandu oleh Aisyah Bintang, murid kelas XI-3, yang membuka acara dengan penuh khidmat dan percaya diri. Dengan suara yang lembut namun tegas, ia memandu jalannya kegiatan sejak awal hingga akhir.
Dalam kesempatan tersebut, Bintang juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah, Bapak Rubito, serta Bapak dan Ibu guru pembina kegiatan MUTIARA yang telah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi MC pada pagi hari itu. Ia merasa bangga dapat menjadi bagian dari dakwah digital yang terus menginspirasi seluruh warga sekolah selama bulan suci Ramadhan.
Sebelum rangkaian tausiyah dimulai, lantunan ayat suci Al-Qur’an dibacakan dengan merdu oleh Muhammad Bagus dari kelas X-6. Bacaan tersebut menambah kekhusyukan suasana dan menjadi pengingat bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang menuntun langkah kehidupan, terlebih di bulan yang penuh berkah ini.
Pada MUTIARA kali ini, tausiyah disampaikan oleh murid-murid yang telah terjadwal, yaitu Rif’at Azzahra (XII-3), Salsabella (XI-5), Sultan Anugrah (X-4), M. Zacky Miftaqunizar (XI-3), Arjuna Eril (XI-5), dan Aisyah Oktaviani (XII-2). Sementara itu, pembacaan hadis disampaikan oleh Qaisno (XII-5). Setiap penyampai tausiyah membawakan tema yang berbeda namun tetap saling melengkapi dalam menguatkan keimanan.
Tausiyah Pertama: “Mengingat Kembali Sang Pencipta”
Tausiyah pertama disampaikan oleh Rif’at Azzahra dari kelas XII-3. Ia menjelaskan bahwa hakikat hidup manusia adalah beribadah kepada Allah SWT. Namun, kesibukan dunia sering kali membuat manusia lalai dan terlalu fokus pada urusan duniawi.
Rif’at mengajak kita untuk memulihkan ketenangan hati melalui zikir dan shalat yang khusyuk. Ia juga mengingatkan bahwa mengingat kematian bukan untuk ditakuti, melainkan dijadikan motivasi untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan Allah adalah tujuan akhir yang abadi.
Tausiyah Kedua: “Jika Ini Ramadhan Terakhirku, Masihkah Aku Memiliki Kesempatan Kembali?”
Tausiyah kedua disampaikan oleh Salsabella dari kelas XI-5. Ia mengajak kita untuk menyadari bahwa tidak ada yang mengetahui apakah kita masih akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya.
Oleh karena itu, jangan menunda taubat dan jangan menunda berbuat kebaikan. Ramadhan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menjadikannya sebagai titik balik kehidupan agar tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan berakhir.
Tausiyah Ketiga: “Bulan Suci Ramadhan”
Tausiyah ketiga disampaikan oleh Sultan Anugrah dari kelas X-4. Ia menekankan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahmat dan ampunan, di mana umat Islam dilatih untuk meningkatkan ketakwaan melalui ibadah puasa dan berbagai amal kebaikan lainnya.
Ramadhan menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki diri, melatih kesabaran, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Dengan menjalankan ibadah secara sungguh-sungguh, diharapkan kita dapat keluar dari bulan Ramadhan sebagai pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa.
Tausiyah Keempat: “Keistimewaan Bulan Ramadhan yang Tidak Kita Ketahui”
Tausiyah keempat disampaikan oleh Aisyah Oktaviani dari kelas XII-2. Ia menjelaskan bahwa Ramadhan memiliki banyak keistimewaan luar biasa.
Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pahala dilipatgandakan, dan terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Selain itu, doa orang yang berpuasa termasuk doa yang mustajab. Karena itu, Ramadhan menjadi kesempatan besar untuk memperbanyak ibadah dan meraih ampunan Allah SWT agar menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Tausiyah Kelima: “Berbakti kepada Kedua Orang Tua”
Tausiyah kelima disampaikan oleh Arjuna Eril dari kelas XI-5. Ia mengingatkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan mulia yang pahalanya sangat besar, terlebih jika dilakukan di bulan Ramadhan.
Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk lebih menghormati, membantu, dan mendoakan kedua orang tua dengan penuh ketulusan. Jangan sampai kita rajin beribadah tetapi lalai membahagiakan mereka, karena ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua.
Tausiyah Keenam: “Hal-Hal yang Membatalkan Puasa”
Tausiyah keenam disampaikan oleh M. Zacky Miftaqunizar dari kelas XI-3. Ia menjelaskan bahwa puasa dapat batal karena beberapa hal, seperti makan dan minum dengan sengaja, muntah yang disengaja, berhubungan suami istri di siang hari, serta haid dan nifas bagi perempuan.
Oleh karena itu, kita harus menjaga puasa dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab agar ibadah yang dijalankan tetap sah dan bernilai di sisi Allah SWT.
Kegiatan MUTIARA hari kelima ini berjalan dengan lancar dan penuh makna. Setiap tausiyah yang disampaikan menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh siswa untuk memanfaatkan bulan Ramadhan sebaik mungkin. Semoga semangat “Pause The Noise, Listen to the Al-Qur’an” benar-benar kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Subuh kita terus bersinar dan Ramadhan kita menjadi gemilang.
@SMANSatSet – Cepat Belajar, Cepat Tanggap, Cepat Berkarya
Salam SatSet